Pagi itu,,hp ku berbunyi…
“telpon dari ibu, ada apa sore2 begini nelpon?? Tumben amat” fikirku…
Namun, terjadi percakapan yg cukup menggelikan..
Hihi,,
Aku: Assalamu’alaykum,,
Ibu : Wa’alaykumussalam. deQ..??
Aku : iya,, ada apa bu?
Ibu : ……………………………………………. (ibu membicarakan hal lain)
Aku : iya bu…
Lalu………
Ibu : deQ,, kmu
(ibu ngomong dengan nada serius dan sebelum ibu melanjutkan kata2 beliau, aq membayangkan ibu akan berkata ‘belajar dunk yang serius, jangan sampai dapat nilai jelak lagi,, jangan mengecewakan ibu lagi..’ aku pun sudah bersiap diri dengan perkataan maaf dan selanjutnya… tapi ternyata…….
Ibu : (lanjutan yang tadi)….. kmu udah boleh koQ pacaran…
DUBRAK..!!!!
Sungguh hal yang di luar dugaan…
Pikiranku pun melayang ke masa kira2 2 tahun yang lalu, 3 tahun yang lalu, 4 tahun yang lalu… yah…masa2 jahiliyah itu… saat2 aku dilarang pacaran, tapi malah dengan bandel aku melanggar larangan ibu dan laranganNya dengan berpacaran dengan seorang teman yang menurutku dya yang terbaik bagi ku.. Astagfirullah…
Dan memang…
Allah itu tidak kehabisan cara tuk menguji hambaNya,
Baru saja beberapa hari sebelum hari itu aku mengikrarkan pada diri sendiri tuk tidak mau berpacaran lagi sampai aku menikah dan pacaran selanjutnya ya hanya dengan suamiku nanti, dengan orang pilihanNya...
Ntahlah….
Hal itu begitu saja terpikir dan terbayang-bayang dalam benakku beberapa hari sebelum akhirnya aku mengikrarkan hal itu pada diriku..
Hal itu begiru mengganggu fikiranku…
Membuat hatiku resah dan membayangiku dalam mimpi2ku…
Sampai pada suatu pagi,
Ntah pada malamnya Allah memberi mimpi apa padaku,
Aku merasa bahwa sudah saatnya aku hijrah..
Hijrah tuk menjaga hati..
Menjaga diri…
Untuk diriku sendiri, untuk masa depanku nanti dan lebih utama untuk Allah dan RasulNya…
Someone said “cara mencari jodoh yang terbaik adl dengan cara memperbaiki diri”
Dahulu…aq tak habis pikir kenapa cara mencari jodoh dengan cara memperbaiki diri? Apa hubungannya memperbaiki diri dengan jodoh kita?
Apakah dengan aku memperbaiki diri lalu jodohku yang jauh di luar
Lalu bagaimana dengan film2 yang menceritakan istrinya alim luar biasa tapi suaminya bejadnya na’udzubillah?
Yah…sebejadn2nya aku dulu, Alhamdulillah Allah masih membukakan hatiku..
Teringat aku dengan berbagai literatur yang kubaca dan pengalaman yang ku alami…
Salah satunya…
“ bagaimanapun, orang akan memilih intan berlian yang terbungkus rapi dan tersimpan di dalam lemari daripada intan berlian yang terpajang di depan etalase dan sering kali dilihat orang, dipegang-pegang apalagi sampai dicoba, mesikipun keduanya sama-sama intan berlian”
Dianalogikan intan berlian itu adalah kita, para gadis dan wanita yang pada dasarnya diberikan kelebihan dari Sang Khalik yakni keindahan yang dapat membuat siapa saja terpesona melihatnya…
Atau percakapan ini
A : udah berapa lama c ma cowok lo?
B : 3 tahun
A : trus nanti nikah mw ma dya?
B : ga ah…aku mw cari yang lebih baik untuk anak2ku dibanding dya
A : lalu bwat apa pacaran 3 tahun klo akhirnya ga nikah?
B : malas aja putus tar,, ntar sakit….
A : lalu apakah tidak sia2 waktu yang lo keluarin bwat dya?
B : ntahlaaa…
Dan fakta-fakta seperti…
B : kakak gw udah putus ma ceweknya, padahal dah tunangan, tinggal nikah lagi
A : lho?kenapa?
B : baru ketahuan sifat buruk si cewe
A : lha? Jadi 5 taun ngapayn aja?
B : tauk…
C : deq.. akhirnya mba **** (sepupuku) nikahnya bukan sama pacarnya yang udah 2 tahun itu lho?
A : hah? Masa? Kenapa?
C : ga tw…akhirnya nikah ma tetangganya yang baru kenal 1 bulan…
A : ???
Dan terbukti pula dengan 3 orang sepupuku lainnya yang dah lama-lama pacaran, eh ternyata nikahnya malah ma temen kantornya yang baru kenal 3 bulan, atau ma orang yang ketemu di kereta yang juga baru kenalan hanya dalam waktu 4 jam, atau dengan teman lamanya waktu SD, de es be…
Belum lagi fakta yang ini…
“wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An Nuur : 24)
Jelas sekali dalam
Lalu terfikirlah olehku,
Siapa sih yang ga pengen punya suami yang baik, alim dan dapat memimpin keluarga?
Aku juga sangat menginginkan itu pastinya, karena keluargaku nantilah yang pastinya akan aku pertanggung jawabkan di akhirat…
Namun pantaskah jika aku menginginkan suami yang terbaik untuk anak-anakku kelak tapi aku sendiri tidak membentuk diriku sebagai istri yang baik dan ibu yang baik kelak untuk anak-anakku?
Pantaskah seorang bejad sepertiku mendapat suami yang baik itu?
Tidakkah itu tidak adil baginya dan bagi wanita-wanita yang jauh lebih baik dariku di luar
Maka….
Untuk itu…
Aku rasa aku harus berubah…
Lalu kata2 “cara mencari jodoh tyang terbaik adalah dengan cara memperbaiki diri” tidak lagi kusepelekan. Malah menjadi kata2 yang ‘mengena’ bagiku…
Lalu terpikir lagi olehku…
aku merasa hal yang namanya pacaran itu menghabiskan waktu dan energi… Bayangkan saja, jadian, menjalin hubungan, lalu putus, belum lagi masa2 berantem.. dan aq mengakui ketika berantem itu sungguh menghabiskan energi, menangis, ngambek, perlu waktu lagi bwat bahas masalah.. belum lagi klo berakhir dengan putus, sakiiiit bgt rasanya..
Dan klo dibandingkan dengan pacaran jaman sekarang, belum lagi bila si cowok “meminta hal yg tidak2”.. bukankah jika kita berikan, berarti kita tidak lagi memberikan diri kita yang utuh pada suami kita?
Na’udzubillah…
Allah….
Terimakasih atas petunjukMu yang indah ini…
Bantu aku dan saudara2 seimanku yang lain di luar
Aamiin,
Lalu terjadi obrolan singkat dengan ibuku, dan kuakhiri telfon dengan kata2
“ya bu…percaya saja pada Allah dengan janjiNya,
Wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan sebaliknya…
Sekarang saatnya aku tuk memperbaiki diri dulu bu…
Mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depanku kelak…”
Wallahu’alam..
like this !
BalasHapuskisah pribadi ya ukh..
BalasHapus